Mereka beramai-ramai mengambil air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci pakaian. Kendati air telah berwarna kehijauan dan keruh, warga tak menghiraukannya.
Air telaga tersebut sudah mulai surut, demikian halnya dengan stok air di bak penampungan milik warga. Persediaan air yang berasal dari air hujan itu hanya digunakan untuk memasak. Menurut salah seorang warga di Petirsari, Sumiyem, 50, untuk menghemat air, aktivitas sehari-hari seperti mencuci pakaian maupun mandi dilakukan di telaga yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.
”Selain untuk mencuci dan mandi, telaga itu terkadang digunakan untuk memandikan ternak milik warga,” ungkap dia ketika ditemui Espos, Selasa (4/8).
Air keruh
Kekurangan air pada musim kemarau merupakan hal yang rutin terjadi setiap tahun. Dia memperkirakan puncak kemarau jatuh pada September atau Oktober. Untuk memenuhi kebutuhan air layak konsumsi, warga membelinya dari pihak swasta dengan harga Rp 90.000 per tangki. Air tersebut, sambung dia, bisa memenuhi kebutuhan selama kurang lebih dua pekan.
”Untuk memasak, saya membeli air. Jika punya uang, ya, bayar sendiri. Tetapi jika tidak punya uang, ya, patungan dengan tetangga,” papar dia.
Menurut Kepala Desa Petirsari, Budianto, Telaga Braholo tersebut digunakan 600-an keluarga di sebelas dusun di Petirsari dan Desa Gambirmanis. Dia mengatakan, memasuki musim kemarau, air telaga itu semakin keruh karena airnya menyusut.
Menurutnya, telaga itu tidak lagi digunakan warga untuk memasak, beberapa warga masih menggunakan untuk mandi. Untuk memenuhi kebutuhan air, sambung dia, warga secara mandiri membeli air. “Hujan sudah mulai jarang sehingga air telaga semakin menyusut,” ungkapnya. - Oleh : Dina Ananti SS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar