"SELAMAT DATANG DI BLOGNYA PARANGGUPITO" berisi seputar informasi terkini kecamatan paranggupito, media informasi, tombo kangen, hiburan dan komunikasi
kagem sedanten perantau ing pundi kemawon, dalem nyuwun informasi paguyuban/perkempulan ingkang saget kulo masukne ing forum blog meniko. saget email ; inimasbudi@yahoo.com nopo hp: 08112504128

KAOS " I LOVE PARANGGUPITO "

KAOS " I LOVE PARANGGUPITO "
yang menginginkan kaos dengan desain ini bisa pesan dengan harga 25.000 belum termasuk ongkos kirim, bagi yg berminat hub 085228691955

sekilas pandang PARANGGUPITO

Paranggupito awalnya hanya sebuah kelurahan, seiring dengan perluasan wilayah kabupaten Wonogiri atau pemekaran wilayah maka Paranggupito dijadikan sebuah Kota kecamatan kecil yang memiliki 8 DESA meliputi :

1. DESA JOHUNUT

2. DESA KETOS

3. DESA SONGBLEDEG

4. DESA PARANGGUPITO

5. DESA SAMBIHARJO

6. DESA GUDANGHARJO

7. DESA GUNTURHARJO

8. DESA GENDAYAKAN

adapun batas wilayahnya bagian barat di kelurahan songbledeg berbatasan langsung dengan kelurahan songbanyu, rongkop gunungkidul, sebelah utara desa johunut berbatasan langsung dengan kec giritontro, wilayah timur desa gendayakan dan desa gunturharjo berbatasan dengan kec donorojo, dan kalak merupakan bagian kabupaten pacitan jawa timur. sebelah selatan berbatasan langsung dengan pantai selatan dimana kecamatan ini mempunyai 3 pantai yang telah dibuka untuk kunjungan wisata, ritual labuhan, dan rencana dermaga kecil. telah memiliki akses jalan dengan jalan aspal namun memang memiliki jalan berliku dan kurang lebar sehingga harus extra hati_hati. Daerah paranggupito memiliki masyarakat yang sebagian besar petani tadah hujan, memelihara ternak, dan sebagian mengembangkan industri rumah tangga gula jawa. juga telah memiliki fasilitas pendidikan dr setingkat taman kanak kanak sampai dengan SMA serta didukung dengan kelompok perkuliahan jarak jauh. fasilitas kesehatan sudah mendukung dengan satu puskesmas kecamatan 3 puskesmas pembatu, dan bidan desa. serta menjadi kecamatan rawan kekeringan, dengan kondisi alam pegunungan batu padas dan tanah yang tidak begitu subur. namun merupakan salah satu kecamatan penghasil budi daya pertanian berupa gaplek dan kayu jati.

peta" PARANGGUPITO "

peta" PARANGGUPITO "

peta wisata paranggupito

peta wisata paranggupito

Selasa, 10 November 2009

Langkah persuasif untuk klarifikasi tanah

Wonogiri (Espos) Bupati Wonogiri, Begug Poernomosidi, diminta melakukan pendekatan persuasif dengan pemegang kuasa atas tanah di Pantai Waru, Paranggupito, guna menyelesaikan masalah status tanah yang menjadi kendala rencana pembangunan dermaga. 

Jika langkah tersebut tidak membawa hasil, Bupati diminta dalam waktu sesingkat-singkatnya mendesak agar Badan Pertanahan Nasional (BPN) menyelesaikan perkara itu. 
Saran itu disampaikan oleh Komisi B DPRD Jateng saat hearing (rapat dengar pendapat) dengan Komisi II DPRD Kabupaten Wonogiri dan beberapa SKPD terkait di antaranya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan (Disnakperla), Senin (9/11) di Semarang. 
Anggota Komisi B DPRD Jateng, Subandi, dihubungi Espos, Selasa (10/11), mengungkapkan secara umum, pihaknya menyambut baik rencana Pemkab Wonogiri untuk mengembangkan kawasan Pantai Waru. 
”Hanya diharapkan status tanah yang masih dikuasai Batik Keris itu di-clear-kan dulu. Komisi B menyarankan agar bupati melakukan pendekatan persuasif dengan penguasa tanah. Kalau bisa diarahkan ke hibah. Jadi tanah itu dikembalikan statusnya menjadi milik Pemkab,” ujar Subandi. 
Pengusaha Kunto Hardjono yang pernah terlibat dalam proyek pembangunan objek wisata di Paranggupito, menyebut tanah itu tidak dimiliki Batik Keris namun dimiliki PT Solo Adi Sarana milik keluarga Handoko.
Mengenai masalah anggaran, Subandi, mengatakan pembangunan dermaga dan pengembangan kawasan Pantai Waru diperkirakan membutuhkan dana senilai Rp 35,35 miliar. 
Terpisah, Kepala Disnakperla, Rully Pramono Retno, mengungkapkan akan dibuat embrio kampung nelayan. Rully mengatakan di kawasan tersebut sebenarnya ada 200-an nelayan. Namun yang tercatat sebagai anggota koperasi hanya 57 orang.
Anggota DPRD Wonogiri, Ahmad Zarif, mengungkapkan selain tidak memenuhi kewajiban mengembangkan kawasan itu, investor yang menguasai tanah itu juga sudah tidak membayar pajak bumi dan bangunan selama lebih dari 18 tahun. - Oleh : shs

Pastikan lokasi tidak bermasalah

  Anggota DPRD Provinsi Jateng merekomendasikan pergeseran pembangunan dermaga di Kecamatan Paranggupito, dari Pantai Klothok ke Pantai Waru. 

Pembangunan dermaga itu akan menelan anggaran sekitar Rp 35 miliar, namun sekarang muncul persoalan tanah yang masih dimiliki pihak swasta. Pihak swasta diberi hak penggunaan tanah selama 20 tahun, sejak 1985. Namun agar pembangunan dermaga tidak memunculkan masalah, berikut udarasa wong Wonogiri.

Santo, 53, warga Klampisan, Kaliancar, Selogiri

Secara pribadi saya senang di Wonogiri memiliki dermaga. Dengan demikian, ada tambahan lokasi wisata di pantai, tidak hanya Waduk Gajah Mungkur. Adanya dermaga, diharapkan juga menambah pendapatan asli daerah (PAD) Wonogiri. Namun pembangunan dermaga itu jangan memunculkan masalah. Pastikan dahulu, lokasi itu tidak ada masalah.
Juga pengelolaan atau pengerjaannya sing jujur, rakyat jangan ditipu-tipu seperti pemberian bibit yang tidak pernah sesuai kebutuhan petani. Kalau toh tanah itu dipinjam mestinya dikembalikan. Misalkan saya yang punya tanah dikontrak orang, kalau sudah habis masa kontraknya, ya dikembalikan ke saya ta.


Canthang Daliman, warga Giri Asri, Singodutan, Selogiri

Kami senang jika Wonogiri ada objek baru penghasil PAD. Langkah awal, kami usulkan untuk secepatnya melakukan koordinasi jika lokasi yang akan digunakan masih bermasalah. Sepengetahuan saya, hak guna bangunan itu sesuai aturan selama 20 tahun dan saya mendengar kalau lokasi Pantai Waru, Paranggupito itu dikelola oleh swasta.
Jadi koordinasikan dengan pihak swasta dan segera ditindaklanjuti, walau pergeseran pembangunan dermaga itu mengorbankan dana Rp 1 miliar untuk pembangunan dermaga di Pantai Klothok. Bagaimana pun, kalau program itu untuk kemajuan Wonogiri, kami mendukung. Apalagi pembangunan dermaga itu juga sudah didukung oleh anggota DPRD. Juga jangan sampai pembangunan itu terjadi penyelewengan.
Menurut kami, pembangunan dermaga itu akan meningkatkan perekonomian masyarakat yang berujung pada penambahan PAD. Mohon segera ditindaklanjuti dan ditingkatkan pengawasannya. Jangan sampai ada persoalan baru. - Oleh : tus

”Nilai kesetiakawanan mulai pudar”

Wonogiri (Espos) Rasa egois mulai menghidupi manusia di era globalisasi. Kesetiakawanan pun mulai memudar. 

Sebagai contoh, saat Pemkab Wonogiri memberangkatkan truk yang mengangkut rancang bangun rumah knock down (bisa dibongkar pasang), tidak seorang pun pemuda mendaftarkan diri untuk membantu.
Penegasan itu disampaikan Bupati Wonogiri H Begug Poernomosidi saat membuka acara Sarasehan Nilai-nilai Kesetiakawanan dan Kepahlawanan di Pendapa Rumah Dinas Bupati, Senin (9/11).
”Kami menaruh apresiasi dengan pelajar SMKN 2 Wonogiri, yang masih memiliki rasa kesetiakawanan. Pelajar SMKN 2 Wonogiri datang ke kami dan menyatakan sanggup menjadi tenaga sukarela di Padang,” kata Bupati. - Oleh : tus

Senin, 09 November 2009

Investor dukung proyek dermaga



Paranggupito (Espos) Investor pemilik lahan di sekitar Pantai Waru, Paranggupito, bersedia bekerja sama dengan pemerintah membangun dermaga. Kesediaan itu dengan catatan pemerintah berkomitmen mengembangkan kawasan itu. 

Kunto Hardjono, salah satu pengusaha yang terlibat dalam proyek pengembangan kawasan Pantai Nampu dan sekitarnya bersama almarhum Handoko selaku pemilik lahan, saat dihubungi Espos, Minggu (8/11) malam, mengungkapkan beberapa tahun sebelumnya, atas kemauan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng, kawasan itu memang akan dijadikan objek wisata. Yang akan dibangun salah satunya adalah dermaga perahu nelayan di Pantai Waru.
”Saat itu, oleh Pemprov, Pak Handoko ditugasi sebagai investor. Kemudian tanah di tempat itu seluas kurang lebih 350 hektare dibebaskan. Bahkan kami sudah melakukan survei yang melibatkan konsultan asal Prancis.”

Jalur lintas
Di tanah yang dibebaskan itulah, kata Kunto, akan dibangun hotel, objek wisata dan berbagai industri pariwisata. Tujuannya, membuat paket wisata terpadu, mulai dari Pantai Parangtritis dan lain-lain di Yogyakarta, menginap di Pantai Nampu di Wonogiri dan berlanjut ke Solo.
Namun, lanjut Kunto, hingga kini, rencana tersebut belum berhasil diwujudkan. Gara-garanya, komitmen pemerintah untuk membangun jalur lintas dari Yogyakarta sampai ke Pacitan lewat lahan yang dibebaskan di Pantai Nampu itu tak kunjung direalisasikan.
“Waktu itu perjanjiannya, Pak Handoko selaku investor bersedia mengembangkan kawasan itu karena pemerintah berkomitmen membangun jalur lintas tersebut. Sekarang, karena jalur itu belum juga dibangun, ya, rencana itu akhirnya urung dilaksanakan,” ujar Kunto, yang mengaku sangat kecewa atas gagalnya rencana itu.
Kunto tidak berani menjamin apakah mungkin rencana pengembangan tempat wisata itu bisa dilaksanakan. Pasalnya, saat ini, sang investor, Handoko telah meninggal dunia, sedangkan ahli warisnya belum tentu mau meneruskan rencana tersebut.
Diberitakan SOLOPOS, Sabtu (7/11), rencana pembangunan dermaga perahu nelayan di Pantai Waru diperkirakan terkendala karena sebagian lahan di tempat itu sudah menjadi milik investor. - Oleh : Suharsih

Pipa PDAM di gunturharjo diperbesar

Paranggupito (Espos) Harapan warga empat dusun di Desa Gunturharjo, Kecamatan Pranggupito, Wonogiri untuk mendapatkan layanan air bersih PDAM dengan debit yang lebih besar, akhirnya terpenuhi. 

Pipa air sepanjang 6.000 meter melewati empat dusun tersebut, saat ini, tengah dalam proses penggantian dari semula hanya berdiameter satu inci menjadi dua inci.
Kepala Desa Gunturharjo, Suyadi, ditemui Espos di kediamannya, Minggu (8/11), mengungkapkan minimnya air bersih merupakan masalah yang sangat akrab dengan warga desanya. 10 Dusun sebenarnya sudah dipasok air PDAM melalui pipa. Namun debit airnya kecil karena diameter pipa hanya 1 inci, sehingga warga masih sering kekurangan air bersih.
”Penggantian pipa dengan yang diameternya lebih besar ini sudah kami ajukan sejak beberapa waktu lalu dan baru kali ini direalisasikan,” kata Suyadi.
Empat dusun dimaksud, lanjut Suyadi, adalah Balong, Ngasem, Pelem dan Petir. Dia mengungkapkan sampai saat ini, masih ada satu dusun yang masih kesulitan air yaitu Dusun Plawon. Di dusun tersebut, hanya ada satu tandon air dan pipa dengan diameter satu inci. Air tersebut setiap hari diperebutkan oleh 86 keluarga. 
Bahkan, Suyadi menambahkan, tak sedikit pula warga yang terpaksa berjalan kaki hingga 2-3 km ke sumber mata air hanya untuk seliter-dua liter air bersih. “Ya kalau kami ya harapannya setiap dusun nanti bisa dialiri air bersih dari PDAM dengan debit yang lebih besar. Kami juga masih mengharapkan adanya bantuan seperti yang kami terima dari KPP Pratama beberapa waktu lalu,” ujar Suyadi. - Oleh : shs

PETA DESA SAMBIHARJO

PETA DESA SAMBIHARJO

news

Loading...